Dari pertemuan INASGOC (Indonesia Asian Games Organizing Committee) dengan Olympic Council of Asia di Executive Board dan General Meeting beberapa waktu lalu, OCA menerima usulan Indonesia untuk mempertandingkan 40 cabang olahraga–32 cabang olimpik dan delapan non-olimpik.

Hal itu disampaikan Deputi IV bidang Peningkatan Prestasi Olaharaga Kemenpora Gatot. S. Dewa Broto. Menurutnya, hal ini tak lepas dari beberapa cabang baru yang masuk dalam Olimpiade 2020 di Tokyo seperti karate, sofbol dan bisbol, sport climbing, skateboard, dan berselancar.
Dengan naiknya lima cabang tersebut ke Olimpiade, maka Indonesia punya slot kosong untuk cabang non-olimpik yang bisa dipertandingkan di Asian Games 2018. Alhasil slot kosong itulah yang dimanfaatkan INASGOC untuk memasukkan cabang bridge, paragliding, dan jetski.

“Jadi kalau ingat hasil rapat Korkom (Koordinasi Komite) dengan OCA kita diminta masukkan satu usulan cabang saja. Tetapi karena kondisi ini jadi cabang-cabang yang kami usulkan bisa terakomodir semua,” kata Gatot.

Sebagai gambaran, pada general assembly 14 Juni 2015 di Turkmenistan, telah ditetapkan 37 cabor dengan rincian 28 cabor olimpiade, 8 non-olimpiade (termasuk usulan OCA yaitu kriket dan boling), plus satu usulan KONI yaitu bridge.

Belakangan cabang-cabang itu kembali dirembukkan pada rapat Kordinasi Komite (Korkom) Asian Games 2018 bersama OCA di Hotel Fairmont, Senayan, akhir Januari lalu. Hasilnya tetap Asian Games mempertandingkan 37 cabor. Hanya memang satu dari 37 cabang itu belum ditentukan oleh INASGOC karena sejumlah cabang berharap bisa ambil bagian seperti bridge, jetski, panjat tebing, dan paragliding.

Dengan terakomodirnya semua usulan dari KOI dan KONI maka Indonesia sudah dipastikan akan mempertandingkan 40 cabang olahraga. Dengan rincian akuatik, atletik, anggar, angkat besi, basket, bola tangan, bulutangkis, bisbol/sofbol, balap sepeda, equestrian, golf, gulat, hoki, judo, karate, kano/kayak, layar, menembak, modern pentathlon, panahan, panjat tebing, rowing, rugbi, senam, skateboard, sepakbola, tenis meja, taekwondo, tenis, tinju, triatlon, voli.

Sementara cabang non-olimpik adalah boling, bridge, kriket, kabaddi, martial art (jujitsu, kurash, pencak silat, sambo, wushu), mechanical sport (paragliding dan jetski), squash, dan sepak takraw.

“Jadi Korkom yang akan berlangsung November nanti itu hanya ketok palu saja. Mudah-mudahan tidak ada persoalan lagi. Tetapi saat Bapak Erick Thohir paparan, tidak ada anggota OCA yang keberatan. Jadi Koorkom hanya mengesahkan saja,” sebut Gatot.

Lagipula pada rapat Koorkom nanti, imbuh Gatot, titik krusialnya bukanlah masalah cabor melainkan dua hal yaitu memonitor masalah venue-venue, kemudian yang kedua adalah OCA akan menanyakan anggaran pemerintah Indonesia untuk persiapan Asian Games.

“Jadi mereka minta adanya jaminan berapa sih rekening yang dimiliki INASGOC. sejauh ini mereka memang baru kita siapkan Rp 70 miliar. Rp 20 miliar sudah dipakai untuk kegiatan INASGOC oleh Sesmenpora dulu salah satunya sosialisasi, sementara sisanya yang ada di rekening saat ini Rp 50 miliar,” bebernya.


 

Sumber : http://sport.detik.com/sport-lain/d-3312385/oca-sepakat-indonesia-tambah-cabang-olahraga-di-asian-games-2018